gastritis

October 31, 2010

Lambung memegang peranan amat vital dalam sistem pencernaan makanan. Organ yang terletak setelah kerongkongan ini merupakan tempat dihancurkannya makanan yang masuk ke dalam perut. Selanjutnya sari-sari makanan yang dihasilkan diteruskan ke proses selanjutnya. Makanan yang masuk ke dalam lambung akan bercampur dengan getah lambung yang bersifat asam. Melalui gerakan kontraksi lambung, makanan akan dicerna hingga menjadi cair (chymus) (Anonim 2009).
Enzim yang bekerja di lambung adalah pepsin (pencerna protein). Pepsin bertugas mencerna kolagen yang merupakan unsur utama dari jaringan penyambung interselluler daging. Proses pencernaan protein di dalam lambung sekitar 10 – 30% dari keseluruhan pencernaan protein di seluruh tubuh. Karbohidrat tidak dicerna di dalam lambung. Sementara lemak dicerna di dalam lambung dengan menggunakan enzim lipase yang berasal dari kelenjar lidah bagian bawah. Beberapa penyakit yang berhubungan dengan lambung:
1. Tukak lambung
Tukak lambung (ulkus) terjadi apabila dinding lambung rusak akibat mukus yang menyelimutinya rusak. Enzim yang dihasilkan di dalam mukus memakan bagian-bagian kecil pada lapisan permukaan lambung. Penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus ini menyebabkan dinding lambung berlubang sehingga isinya jatuh ke dalam rongga perut.
2. Kolik
Rasa nyeri pada lambung diakibatkan salah mencerna makanan seperti cabe atau alkohol.
3. Gastritis/Maag
Gastritis adalah inflamasi atau peradangan pada dinding lambung terutama pada mukosa lambung yang dapat bersifat akut dan kronik (Anonim 2009).
Etiologi
Hal-hal yang menyebabkan penyakit pada lambung adalah terinfeksi oleh virus atau bakteri yang masuk melalui makanan atau minuman, pola makan yang tidak sehat, tidak teratur, sering terlambat makan, dan kurang mengonsumsi sayur dan buah-buahan. Ritme kerja yang menekan, stres, dan diperparah dengan kondisi tubuh seseorang yang tidak fit juga dapat menyebabkan timbulnya penyakit lambung. Selain itu tingkat kebisingan yang tinggi berakibat pada terjadinya malabsorbsi lemak (ketidakmampuan sistem pencernaan untuk mencerna dan menyerap lemak) (Iskandar 2007).
Gastritis dapat disebabkan oleh obat analgetik anti inflamasi terutama aspirin, bahan kimia misalnya lisol, merokok, alkohol, stress fisik yang disebabkan oleh luka bakar, sepsis, trauma, pembedahan, gagal pernafasan, gagal ginjal, kerusakan susunan saraf pusat, dan refluk usus lambung. Selain disebabkan oleh obat anti inflamasi non steroid (AINS), gastritis juga dapat disebabkan olah gangguan mikrosirkulasi mukosa lambung (Iskandar 2007).
Gastritis biasanya terjadi ketika mekanisme pelindung ini kewalahan dan mengakibatkan rusak dan meradangnya dinding lambung. Beberapa penyebab yang dapat mengakibatkan terjadinya gastritis antara lain :
• Infeksi bakteri. Sebagian besar populasi di dunia terinfeksi oleh bakteri H. Pylori yang hidup di bagian dalam lapisan mukosa yang melapisi dinding lambung. Walaupun tidak sepenuhnya dimengerti bagaimana bakteri tersebut dapat ditularkan, namun diperkirakan penularan tersebut terjadi melalui jalur oral atau akibat memakan makanan atau minuman yang terkontaminasi oleh bakteri ini. Infeksi H. pylori sering terjadi pada masa kanak-kanak dan dapat bertahan seumur hidup jika tidak dilakukan perawatan. Infeksi H. pylori ini sekarang diketahui sebagai penyebab utama terjadinya peptic ulcer dan penyebab tersering terjadinya gastritis. Infeksi dalam jangka waktu yang lama akan menyebabkan peradangan menyebar yang kemudian mengakibatkan perubahan pada lapisan pelindung dinding lambung. Salah satu perubahan itu adalah atrophic gastritis, sebuah keadaan dimana kelenjar-kelenjar penghasil asam lambung secara perlahan rusak.
• Pemakaian obat penghilang nyeri secara terus menerus. Obat analgesik anti inflamasi nonsteroid (AINS) seperti aspirin, ibuprofen, dan naproxen dapat menyebabkan peradangan pada lambung dengan cara mengurangi prostaglandin yang bertugas melindungi dinding lambung. Jika pemakaian obat-obat tersebut hanya sesekali maka kemungkinan terjadinya masalah lambung akan kecil. Tapi jika pemakaiannya dilakukan secara terus menerus atau pemakaian yang berlebihan dapat mengakibatkan gastritis dan peptic ulcer.
• Penggunaan alkohol secara berlebihan. Alkohol dapat mengiritasi dan mengikis mukosa pada dinding lambung dan membuat dinding lambung lebih rentan terhadap asam lambung walaupun pada kondisi normal.
• Penggunaan kokain. Kokain dapat merusak lambung dan menyebabkan pendarahan dan gastritis.
• Stress fisik. Stress fisik akibat pembedahan besar, luka trauma, luka bakar atau infeksi berat dapat menyebabkan gastritis dan juga borok serta pendarahan pada lambung.
• Kelainan autoimmune. Autoimmune atrophic gastritis terjadi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang sel-sel sehat yang berada dalam dinding lambung. Hal ini mengakibatkan peradangan dan secara bertahap menipiskan dinding lambung, menghancurkan kelenjar-kelenjar penghasil asam lambung dan menganggu produksi faktor intrinsic (zat yang membantu tubuh mengabsorbsi vitamin B-12). Kekurangan B-12 dapat mengakibatkan pernicious anemia, sebuah kondisi serius yang jika tidak dirawat dapat mempengaruhi seluruh sistem dalam tubuh. Autoimmune atrophic gastritis terjadi terutama pada orang tua.
• Crohn’s disease. Walaupun penyakit ini biasanya menyebabkan peradangan kronis pada dinding saluran cerna, kadang-kadang juga dapat menyebabkan peradangan pada dinding lambung. Ketika lambung terkena penyakit ini, gejala-gejala dari Crohn’s disease (yaitu sakit perut dan diare dalam bentuk cairan) tampak lebih menyolok daripada gejala-gejala gastritis.
• Radiasi and kemoterapi. Perawatan terhadap kanker seperti kemoterapi dan radiasi dapat mengakibatkan peradangan pada dinding lambung yang selanjutnya dapat berkembang menjadi gastritis dan peptic ulcer. Ketika tubuh terkena sejumlah kecil radiasi, kerusakan yang terjadi biasanya sementara, tapi dalam dosis besar akan mengakibatkan kerusakan tersebut menjadi permanen dan dapat mengikis dinding lambung serta merusak kelenjar-kelenjar penghasil asam lambung.
• Penyakit bile reflux. Bile (empedu) adalah cairan yang diproduksi oleh hati dan membantu mencerna lemak-lemak dalam tubuh. Ketika dilepaskan, empedu akan melewati serangkaian saluran kecil dan menuju ke usus kecil. Dalam kondisi normal, sebuah otot sphincter yang berbentuk seperti cincin (pyloric valve) akan mencegah empedu mengalir balik ke dalam lambung. Tapi jika katup ini tidak bekerja dengan benar, maka empedu akan masuk ke dalam lambung dan mengakibatkan peradangan dan gastritis.
• Faktor-faktor lain. Gastritis sering juga dikaitkan dengan kondisi kesehatan lainnya seperti HIV/AIDS, infeksi oleh parasit, dan gagal hati atau ginjal (Iskandar 2007).
Gejala Klinis
Walaupun banyak kondisi yang dapat menyebabkan gastritis, gejala dan tanda–tanda penyakit ini sama antara satu dengan yang lainnya. Gejala-gejala tersebut antara lain :
• Perih atau sakit seperti terbakar pada perut bagian atas
• Mual
• Muntah
• Kehilangan selera
• Kembung
• Terasa penuh pada perut bagian atas setelah makan
• Kehilangan berat badan
Gastritis yang terjadi tiba–tiba (akut) memiliki gejala mual dan sakit pada perut bagian atas, sedangkan gastritis kronis yang berkembang secara bertahap memiliki gejala sakit ringan pada perut bagian atas dan terasa perut penuh atau kehilangan selera. Sebagian orang yang terkena penyakit gastritis kronis ada yang tidak memiliki gejala apapun. Gastritis dapat menyebabkan pendarahan pada lambung, tapi hal ini jarang menjadi parah kecuali bila pada saat yang sama juga terjadi borok pada lambung. Pendarahan pada lambung dapat menyebabkan muntah darah atau terdapat darah pada feses dan memerlukan perawatan segera (Anonim 2009).
Diet
Gastritis merupakan penyakit yang dapat terjadi secara akut dan kronis. Gangguan gastrointestinal sering dihubungkan dengan emosi psikoneurosis atau makan terlalu cepat karena kurang dikunyah serta terlalu bayak merokok. Ganngguan pada lambung umumnya berupa sindroma dispepsia. Tujuan diet untuk penyakit lambung adalah untuk memberikan makanan dan cairan secukupnya serta mencegah dan menetralkan sekresi asam lambung yang berlebihan (Almatsier 2008).

Syarat-syarat diet penyakit lambung adalah :
1. Mudah dicerna, porsi kecil, dan sering diberikan.
2. Energi dan protein cukup, sesuai kemampuan pasien untuk menerimanya.
3. Lemak rendah, yaitu 10-15% dari kebutuhan energi total yang ditingkatkan secara bertahap hingga sesuai kebutuhan.
4. Rendah serat, terutama serat yang tidak larut air yang ditingkatkan secara bertahap.
5. Cairan cukup, terutama bila ada muntah.
6. Tidak mengandung bahan makanan atau bumbu yang tajam, baik secara termis, mekanis, maupun kimia (disesuakan dengan daya terima seseorang).
7. Laktosa rendah bila ada gejala intoleransi laktosa, umumnya tidak dianjurkan minum susu terlalu banyak.
8. Makan secara perlahan di lingkungan yang tenang.
9. Pada fase akut dapat diberikan makanan parenteral selama 24-48 jam untuk memberi istirahat pada lambung (Almatsier 2008).
Macam diet penyakit pada lambung dan indikasi pemberian
Diet lambung I
Diet lambung I diberikan kepada pasien gastritis akut, ulkus peptikum, pasca pendarahan, dan tifus abdominalis serat berat. Makanan diberikan dalam bentuk saring dan merupakan perpindahan dari Diet Pasca-Hematemesis-Melena, atau setelah fase akut teratasi. Makanan diberikan setiap tiga jam selama 1-2 hari karena makanan ini cenderung membosankan serta kurang energi, zat besi, tiamin, dan vitamin C.
Diet lambung II
Diet lambung II diberikan sebagai perpindahan dari diet lambung I, kepada pasien dengan Ulkus Peptikum atau gastritis kronis dan tifus abdominalis ringan. Makanan berbentuk lunak, porsi kecil serta diberikan berupa 3 kali makanan lengkap dan 2-3 kali makanan selingan. Makanan ini cukup energi, protein, vitamin C, tetapi kurang tiamin.
Diet lambung III
mmh Diet lambung III diberikan sebagai perpindahan dari diet lambung II pada pasien dengan ulkus peptikum, gastritis kronis, atau tifus abdominalis yang hampir sembuh. Makanan berbentuk lunak atau bergantung pada toleransi pasien. Makanan ini mengandung cukup energi dan zat gizi lainnya (Almatsier 2008).
Tabel 1 Bahan makanan yang dianjurkan dan yang tidak dianjurkan
Bahan makanan Dianjurkan Tidak dianjurkan
Sumber karbohidrat

Beras dibubur atau ditim, kentang dipure, makaroni direbus, roti dipanggang, biskuit, krekers, mi, bihun, tepung-tepungan dubuat bubur, atau dipuding. Beras ketan, beras tumbuk, roti whole white, jagung, ubi, singkong, tales, cake, dodol, dan berbagai kue yang terlalu manis dan berlemak tinggi.
Sumber protein hewani Daging sapi empuk, hati, ikan, ayam digiling atau dicincang dan direbus, disemur, ditim, dipanggang, telur ayam direbus, didadar, ditim, diceplok air dan dicampur dalam makanan, susu. Daging, ikan ayam yang diawetkan, digoreng, daging babi, telur diceplok atau digoreng.
Sumber protein nabati Tahu, tempe direbus dan ditim, ditumis, kacang hijau direbus, dan dihaluskan. Tahu, tempe digoreng, kacang tanah, kacang merah, kacang tolo.
Sayuran Sayuran yang tidak banyak serat dan tidak menimbulkan gas ketika dimasak, bayam, bit, labu siam, labu kuning, wortel, tomat direbus, dan ditumis. Sayuran mentah, sayuran erserta tinggi, dan menimbulkan gas seperti daun singkong, kacang panjang, kol, lobak, sawi, dan asparagus.
Buah- buahan Pepaya, psang, jeruk manis, sari buah, pit, dan peach dalam kaleng. Buah yang tinggi serat dari atau dapat menimbulkan gas seperti jambu biji, nanas, apel, kedondong, durian, nangka, buah yang dikeringkan.
Lemak Margarin dan mentega, minyka untuk menumis dan santan encer. Lemak hewan, santan kental.
Minuman Teh dan sirup. Minuman yang mengandung soda dan alkohol, kopi, ice cream.
Bumbu Gula, garam, vetsin, kunci, kencur, jahe, kunyit, terasi,laos, salam, sereh. Lombok, bawang merica, cuka, dan sebagainya yang tajam.
Sumber : Almatsier 2008

Pengobatan Gastritis
Banyak alternatif untuk menyembuhkan penyakit yang berkaitan dengan lambung. Mulai dari pengobatan medis kedokteran hingga obatan-obatan herbal. Pada intinya, semua pengobatan bermanfaat asal terkontrol dan tidak berlebihan. Berikut hal yang harus diperhatikan bagi para penderita penyakit lambung:
1. Memperbaiki pola makanan dan jenis asupan yang bergizi tinggi. Hal ini sangat baik agar sistem pencernaan kita selalu sehat dan bisa beraktivitas dengan semestinya
2. Meminum air putih dalam jumlah yang banyak, minimal delapan gelas dalam sehari.
3. Hindari makanan dan minuman yang bersifat merangsang; makanan pedas dan minuman besoda maupun beralkohol
4. Hentikan merokok
5. Kurangi kebiasaan memakan permen karet. Hal ini dikarenakan gas yang dihasilkan saat mengunyah permen karet tertahan di dalam perut
6. Kurangi mengonsumsi goreng-gorengan. Banyak penjaja gorengan yang menggunakan minyak berulang kali. Ini menyebabkan minyak goreng telah jenuh dan berisiko memicu sel kanker.
7. Hindari makan dalam posisi berbaring
8. Beri jeda yang panjang antara jam makan malam dengan waktu tidur. Idealnya tiga jam. Hal ini dilakukan untuk menghindari risiko terjadinya reflux/balik sehingga menyebabkan panas di bagian tengah dada. Asam di dalam lambung penuh dan berpotensi kembali ke kerongkongan.
9. Jangan memaksakan diri untuk makan makanan berat
Pengobatan umum terhadap gastritis adalah menghentikan atau menghindari faktor penyebab iritasi, pemberian antasid dan simptomatik lain, dan pada gastritis atrofik dengan anemia pernisiosa diobati dengan B12 intramuskuler (hydroxycobalamin atau cyanocobalamin). Jika penyebabnya adalah infeksi oleh Helicobacter pylori, maka diberikan bismuth, antibiotik (misalnya amoksisilin dan klaritromisin) dan obat anti-tukak (omeprazol) (PRO-HEALTH 2009).
Penderita gastritis karena stress akut banyak yang mengalami penyembuhan setelah penyebabnya (penyakit berat, cedera atau perdarahan) berhasil diatasi. Tetapi sekitar 2% penderita gastritis karena stress akut mengalami perdarahan yang sering berakibat fatal. Karena itu dilakukan pencegahan dengan memberikan antasid (untuk menetralkan asam lambung) dan obat anti-ulkus yang kuat (untuk mengurangi atau menghentikan pembentukan asam lambung). Antasida mengandung kombinasi antara aluminium hidroksida dan magnesium hidroksida. Reaksi antara suatu asam dari asam lambung dan suatu basa dari antasida menghasilkan suasana netral. Perdarahan hebat karena gastritis akibat stres akut bisa diatasi dengan menutup sumber perdarahan pada tindakan endoskopi. Jika pendarahan berlanjut, mungkin seluruh lambung harus diangkat (PRO-HEALTH 2009).
Gastritis erosif kronis bisa diobati dengan antasid. Penderita sebaiknya menghindari obat tertentu (misalnya aspirin atau obat anti peradangan non-steroid lainnya) dan makanan yang menyebabkan iritasi lambung. Misoprostol mungkin bisa mengurangi resiko terbentuknya ulkus karena obat anti peradangan non-steroid. Untuk meringankan penyumbatan di saluran keluar lambung pada gastritis eosinofilik, bisa diberikan kortikosteroid atau dilakukan pembedahan (PRO-HEALTH 2009).
Gastritis atrofik tidak dapat disembuhkan. Sebagian besar penderita harus mendapatkan suntikan tambahan vitamin B12. Gastiritis karena penyakit Ménétrier bisa disembuhkan dengan mengangkat sebagian atau seluruh lambung. Sedangkan gastritis sel plasma bisa diobati dengan obat ulkus yang menghalangi pelepasan asam lambung (PRO-HEALTH 2009).

Filed in Uncategorized at 4:41 am

no comments